RSS

Bahaya Berfatwa Tanpa Ilmu

31 Des

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلهِ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِيْ اْلآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِيْ اْلمُلْكِ وَالتَّدْبِيْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسَّرَاجُ اْلمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلاَ فَبِتَقْْْْْْوَاهُ تُفْلِحُوْا وَتَسْعَدُوْا فِيْ الدُّنْيَا وَ فِي الْآخِرَةِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dan senantiasa mengingat bahwa Allah lah satu-satunya Pencipta dan Pengatur segala urusan. Marilah kita senantiasa menyadari bahwa Allah l adalah satu-satunya yang berhak mewajibkan atau melarang dan mengharamkan sesuatu. Dia pula satu-satunya yang berhak menganjurkan atau menghalalkan sesuatu.
Allah Subhana Wa Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya terhadap orang-orang yang menghalalkan apa yang telah diharamkan-Nya,
Katakanlah, “Beritakan kepada-Ku tentang rezeki yang Allah turunkan kepada kalian lalu kalian menjadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah, “Apakah Allah telah memberikan izin kepada kalian (untuk menghalalkan dan mengharamkan sesuatu) atau kalian mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus: 59)

Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya di antara kesalahan paling berbahaya dan termasuk kemaksiatan yang paling besar adalah seseorang mengatakan, “Ini adalah sesuatu yang halal atau haram atau wajib,” padahal dia tidak tahu tentang hukum Allah l tentang masalah tersebut. Ini adalah suatu kejahatan dan sikap yang sangat tidak beradab kepada Allah l.
Bagaimana tidak, seseorang berani lancang mendahului Allah l dalam menetapkan hukum padahal Allah l-lah satu-satunya yang mengatur urusan alam semesta, baik yang berkaitan dengan takdir dan ketetapan-Nya terhadap makhluk-Nya maupun yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat yang telah ditetapkan untuk hamba-hamba-Nya. Maka dari itu, semestinya orang yang berani berkata tentang agama tanpa ilmu, menyadari akibat ucapannya dan menyadari bahwa dirinya kelak akan ditanya pada hari kiamat tentang ucapannya.
Sungguh, ketika seseorang membuat orang lain menyimpang dari kebenaran karena jawaban atau fatwa yang tidak dibangun di atas ilmu yang dia sampaikan, maka dirinya akan ikut menanggung kesalahan orang tersebut. Sungguh, seseorang akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat atas apa yang diucapkannya. Ingatlah firman Allah l,
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan (memikul) dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (an-Nahl: 25)

Hadirin rahimakumullah,
Ketika ada yang bertanya kepada seseorang tentang letak suatu desa kemudian dia menjawab atau menunjukkannya, padahal sebenarnya dia tidak mengetahui letak atau arah desa tersebut, tentu ini suatu bentuk kedustaan yang tidak akan diterima oleh setiap orang. Lantas bagaimana dengan seseorang yang menanyakan jalan menuju jannah/surga yang berupa agama dan syariat Allah l? Tentu saja adalah kesalahan yang sangat fatal ketika dia berani menjawab tanpa ilmu. Lebih-lebih kalau hal ini dilakukan oleh para penuntut ilmu yang kebanyakan orang menganggapnya sebagai orang yang bisa dipercaya ucapannya ketika berbicara tentang agama.
Maka dari itu, jelaslah bahwa menjawab atau berfatwa tentang agama ini tanpa ilmu dan bimbingan para ulama adalah suatu kesalahan besar. Bahkan, karena besarnya kesalahan berkata atau berfatwa tanpa ilmu ini, Allah l mengiringkan penyebutan kemaksiatan ini dengan perbuatan syirik, sebagaimana dalam ayat-Nya,
ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ
Katakanlah, “Tidaklah Rabbku mengharamkan kecuali perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, serta perbuatan dosa dan melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar dan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu serta berkata mengatasnamakan Allah sesuatu yang kalian tidak mengetahui.” (al-A’raf: 33)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Berfatwa tentang permasalahan agama adalah urusan yang sangat besar. Tidak boleh ada yang melakukannya selain orang-orang yang telah matang ilmu dan akalnya, yaitu orang-orang yang benar-benar telah menimba ilmu dari para ulama Ahlus Sunnah serta menghabiskan waktu siang dan malam untuk mengkhususkan diri mempelajari wahyu Allah l dan kaidah-kaidah yang ada dalam agama Allah l. Di atas manhaj inilah para ulama kita yang terdahulu berjalan dan saling berwasiat di antara mereka.
Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq z berkata,
أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِيْ وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِيْ إِذَا أَناَ قُلْتُ فِيْ كِتَابِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Langit mana yang akan menaungi saya dan bumi mana yang akan saya pijak, apabila saya berani berkata tentang kitab Allah tanpa ilmu?”
Demikian perkataan orang yang paling mulia di antara para sahabat. Beliau mengingatkan kita, sebagaimana halnya langit dan bumi ini hanyalah milik Allah l, demikian pula syariat-Nya, hanya Allah l yang berhak menetapkannya.
Oleh karena itu, tidak boleh bagi siapa pun untuk berbicara tentang agama-Nya tanpa ilmu. Bahkan, ketika Nabi n sendiri ditanya tentang sesuatu yang belum turun wahyu tentangnya, beliau tidak segera menjawabnya dan menunggu sampai turunnya wahyu, sebagaimana kita dapatkan dalam banyak ayat yang menunjukkan hal tersebut di dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, sungguh sangat aneh dan keterlaluan apabila kita dapatkan ada penuntut ilmu atau bahkan orang yang awam tentang agama, ternyata banyak yang bermudah-mudahan dalam hal menyimpulkan dan menetapkan syariat Allah l. Allah l berfirman,
ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ
Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa-apa yang lidah kalian sebutkan secara dusta, “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah akan mendapatkan keberuntungan.” (an-Nahl: 116)
Hadirin rahimakumullah,
Sungguh, adalah bagian dari iman dan ketakwaan apabila seseorang mengatakan, “Saya tidak tahu,” ketika ditanya tentang sesuatu yang memang dia tidak mengetahuinya. Bahkan, ini pula yang sesuai dengan akal sehat bagi orang yang mau berpikir. Dengan sikap tersebut, dirinya akan tetap dipercaya oleh orang sekaligus menunjukkan bahwa dia termasuk orang yang mengetahui keadaan dan kemampuan dirinya. Maka dari itu, marilah kita senantiasa bertakwa dan takut dari terkena murka Allah l dengan tidak bermudah-mudahan berkata atau menjawab pertanyaan tentang agama tanpa ilmu. Allah l berfirman,
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan.” (al-An’am: 21)
اللَّهُمَّ اعْصِمْنَا عَنِ الزَّلَلِ وَوَفِّقْنَا لِصَوَابِ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْن،َ إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراًً، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l yang telah mengaruniakan adanya para ulama kepada umat. Betapa banyak orang yang mendapat hidayah melalui mereka. Betapa banyak orang yang mengetahui sunnah setelah sebelumnya mereka adalah orang-orang yang buta, tidak mengetahui mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat.

Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita terus menjaga ketakwaan kita kepada Allah l dan senantiasa mengingat bahwa Allah l telah meninggikan kedudukan para ulama di atas para hamba-Nya. Allah l telah menjadikan mereka sebagai pewaris para nabi, dan tidaklah para nabi mewariskan harta, namun mereka mewariskan ilmu. Oleh karena itu, barang siapa yang telah mendapatkannya sungguh dia telah mendapatkan sesuatu yang besar dan akan mencukupi untuk dirinya. Allah l berfirman,
Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (az-Zumar: 9)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Oleh karena itu, ilmu pada asalnya hanyalah diambil dari para ulama karena merekalah yang menduduki tempat para nabi dalam menyampaikan ilmu. Namun, sungguh sangat disayangkan ketika banyak di antara para pemuda yang seakan-akan merasa cukup tanpa bimbingan para ulama. Akibatnya, banyak di antara mereka justru mengambil ilmu dari yang bukan ahlinya dan menjauh dari para ulama. Padahal Nabi n bersabda,
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan cara sekali cabut dari para hamba, tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin (mereka) dari kalangan orang-orang bodoh. Mereka akan ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka pun sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Di samping itu, sebagian mereka merasa cukup dan bisa mendapatkan ilmu dari kitab-kitab yang mereka baca sendiri. Bahkan, di antara mereka seakan-akan bisa mencapai kedudukan para ulama dengan membaca sendiri kitab-kitab tersebut. Padahal, yang selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya tercampur di dalamnya kebenaran dan kesalahan. Sementara itu, orang yang baru belajar tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dia membutuhkan bimbingan para ulama untuk menjelaskan kalimat atau pembahasan yang rumit dan memerlukan uraian. Begitu pula, seandainya ilmu bisa diambil sekadar dengan membaca kitab, tentu para ulama terdahulu tidak akan safar/melakukan perjalanan jauh dengan mengeluarkan biaya dan tenaga serta menghadapi risiko di perjalanan untuk menuntut ilmu.
Oleh karena itu, mereka harus memahami bahwa kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah tidak bisa terwujud tanpa adanya bimbingan para ulama.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 31, 2012 in Ilmu Agama

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: